Minggu, 03 April 2011

Renungan Matius 17. Kemuliaan bersama Yesus

Bacaan:
1:"Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
2:Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
3:Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
4:Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.
5:Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.
6:Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.
7:Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"
8:Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.
9:Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.
22:Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan."
23:Maka hati murid-murid-Nya itupun sedih sekali.

Yesus memilih 3 orang murid yang paling Dia percaya: Petrus, Yohanes dan Yakobus untuk naik ke gunung untuk meeting dan menyaksikan hal yang penting. Yesus bertransformasi, bahasa aslinya metamorfosa, berubah bentuk berubah ujud menjadi penuh kemuliaan, glori. WajahNya bersinar seperti matahari dan pakaiannya bersinar. Pertemuan ini sangat penting karena yang hadir adalah nabi yang terangkat kesurga, Musa dan Elia. Apa isi pertemuan itu? Kita hanya bisa menduga-duga. Yang bisa dikaitkan isi pertemuan ini adalah di ayat 22 dan ayat 23, ketika Tuhan Yesus menceritakan kepada para murid akan datangnya masa sulit yakni Yesus disiksa, disalib dan mati dan hari ke tiga bangkit. Kelihatannya pertemuan ini membicarakan persiapan Yesus harus masuk jalan via dolorosa, jalan salib dan ini sudah dikonfirmasi oleh Allah melalui kehadiran nabiNya.

Bagaimana sikap 3 murid di gunung menyaksikan transformasi Yesus. Mereka terkejut tapi bahagia (ayat 4). Kebahagiaan bersama Yesus yang sebenarnya penuh kemuliaan adalah pencarian kita semua seperti apa yang dirasakan ke tiga murid. Membuat kemah agar bisa tinggal selamanya bersama Yesus yang penuh kemuliaan adalah target setiap umat yang rindu bebas dari segala persoalan di dunia. Namun Yesus menolaknya. Mereka punya tugas di depan, mereka harus turun gunung untuk menjalankan visi Allah menyelamatkan isi dunia ini.

Keindahan bersama Yesus bisa kita alami dalam persekutuan denganNya yang berisikan penyembahan, doa dan pujian setiap hari. Itu saja belum semua. Setelah itu kita harus turun gunung, berkarya, menjadi saksi dan memberitakan Kristus sebagai juruselamat dunia.

Senin, 28 Maret 2011

Renungan. Matius 16. Sikap Positif. Apa selalu?

Bacaan Matius 16:21-24.

21:Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.22:Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.23:Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.24:Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Kita sering diajarkan oleh hamba Tuhan, selalu berpikir positif dan mengarahkan pikiran akan kemenangan dalam menghadapi masalah, karena dikaitkan dengan janti Tuhan seperti rancangan Tuhan memberi damai sejahtera, imanmu akan mengubah hidupmu, dengan iman apa yang kita pikirkan maka itu yang jadi, dan lain-lain. Ada firman Tuhan bahwa kita harus selalu memikirkan yang baik, yang indah yang sedap didengar dan lain-lain.

Petrus menyikapi pernyataan Tuhan Yesus yang disampaikanNya kepada para murid di ayat 21 bahwa Dia akan menderita dan akan mati namun bangkit pada hari ketiga. Sebagai manusia tentunya ketika mendengar bahwa Yesus yang diakui oleh Petrus sebagai mesias, anak Allah yang hidup (ayat 16), Petrus shock dan respons dia "janganlah itu terjadi". Secara sederhana respons petrus sama seperti kita yakni berusaha memikirkan hal yang baik, positif dan sejahtera. Kita harus pikirkan itu dan doakan supaya itu bisa terjadi karena iman kita.

Petrus menyikapinya dengan wajar, namun apakah memang demikian? Sepintas memang sikap Petrus adalah hal yang positif, namun mengapa Tuhan Yesus marah besar dan menegur nya di ayat 23. Tuhan Yesus lebih melihat bahwa sikap Petrus dilandaskan pada ketakutan dan tidak percaya.

Renungan ini mengajarkan kepada kita untuk tidak selalu mengobralkan sikap yang seakan-akan positif, punya iman untuk menolak hal negatif supaya tidak terjadi dalam hidup kita, namun lebih dari pada itu, apakah motivasi itu karena ketakutan semata sehingga ucapan yang seakan positif itu hanya menjadi basa-basi yang keluar dari mulut kita.

Untuk melatih itu, kita diajarkan terus menerus memikul salib dan menyangkal diri. Tidak nikmat dengan nikmat duniawi yang kemudian menjadi takut kalau nikmat duniawi ini dicabut dari hidup kita.

Kamis, 24 Maret 2011

Renungan Matius 16. Gereja yang dimaksud Yesus

Matius 16:18, "Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.". Dalam bahasa Inggrisnya jemaat yang dimaksud adalah gereja (Church).

Akhir-akhir ini kita mengalami bagaimana banyak gereja dirusak, dibakar dan dilarang dibangun, sekalipun secara hukum sampai pada putusan tertinggi ijin membangun gereja sudah dikabulkan. Namun karena desakan sekelompok orang yang mengklaim bahwa persetujuan tanda-tangan dari tetangga bangunan gereja tersebut adalah dilakukan secara paksa maka mereka bersikeras bahwa pembangunan dan ibadah tetap tidak boleh dilakukan.

Mari kita lihat gereja yang dibentuk dan dibangun menurut Yesus Kristus. Kepada petrus Yesus berkata di atas batu karang ini Aku akan membangun gerejaKu dan kuasa alam maut tidak akan bisa menaklukkannya. Ini Yesus katakan setelah dengan tulus Petrus mendeklarasikan bahwa Yesus adalah Mesias, "Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"(Ayat 16).

Sederhanya gereja Yesus dibangun berdasarkan pengakuan yang kokoh bahwa semua anggota percaya dan tegas mengatakan Yesus adalah mesias, anak Allah yang hidup. Mesias berarti yang diurapi, hanya satu-satunya pemimpin, raja, dan anak Allah yang hidup. Hidup artinya nyata, selalu hadir, selalu mendengar, dan yang mengambil keputusan dalam kehidupan anggota jemaatNya. "Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung." (Yesaya 42:8). Demikianlah Yesus sebagai anak Allah menyatakan siapa diriNya, dan Dia melihat itu dalam hati Petrus.

Lalu bagaimana kita lihat gereja saat ini. Gereja lebih mengutamakan organisasinya dan sinode/klasis yang mengatur kehidupan jemaat/gerejanya langsung maupun tidak langsung. Jemaat harus tunduk bukan saja pada alkitab tapi pada tata tertib yang dikeluarkan dari gereja lokal sampai pusat. Kita lihat juga organisasi gereja yang begitu solid dari seluruh dunia dan berpusat di roma. Banyak gereja yang mulai kecil menjadi besar, dan karena kebesarannya, maka demi ketertiban dan ketenangan harus diatur dibuat sistim hirarki, pembiayaan dilakukan, renumerasi diterapkan, sistim kinerja berdasarkan prestasi (yang diukur dari jumlah jemaat atau jumlah persembahan) dilegalisasi. Lalu dimana peran Yesus sebagai pemimpin, hmm... sebagaimana lazimnya Beliau ditaruh dipojok, dan akan dipakai kalau diperlukan. Gereja kehilangan semangat Petrus. Semangat Petrus adalah kesederhanaan, kepolosan, langsung, tidak memikirkan apa yang terjadi besok, totally surrender kepada Yesus.

Bagaimana kita menyikapi gereja yang dibakar dan lain-lain. Bagi saya adalah bersukacita, karena itu yang telah disampaikan Yesus kepada jemaatNya. Karang yang dimaksud Yesus adalah bukan hati yang keras seperti karang, tetapi jiwa yang tenang menghadapi gempuran ombak berulang-ulang. Tidak harus bereaksi, tidak harus berteriak dimana keadilan, katanya negara pancasila, dll. Gereja bukanlah gedungnya, gereja adalah jiwa yang bebas merdeka tanpa dibatasi dinding-dinding yang akan mengukir kesombongan, kepuasan, dan denominasi. Ada berapa banyak denominasi di dunia, ribuan bahkan puluhan ribu. Mana nanti yang akan diterima di surga, maaf tidak ada selama Yesus tetap ditaruh dipojok demi kepentingan aturan dan organisasi denominasi tersebut.

Mari kita mulai menjadi jemaat Kristus bukan karena baju denominasi kita, seperti sikap Petrus demikian kita menjadi karang yang akan dibangun Kristus jemaat diatasNya. Jemaat adalah milikNya , tugas kita adalah menggembalakan domba-dombaNya, maka kita disebut mengasihi Yesus.

Kamis, 17 Maret 2011

Renungan. Matius 16. Yang dipikirkan Allah

Kita masuk dibacaan Matius pasal 16, suatu bab yang berisikan banyak dialog manusia (farisi, murid-murid) dengan Yesus (Allah). Klimaks dari dialog itu ada di ayat 23: "Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa yang ada dalam pikirannya adalah apa yang dipikirkan manusia, bukan apa yang dipikirkan Allah.

Apa saja yang dipikirkan manusia dalam matius 16 ini.

Yang pertama ada di ayat 1: "Kemudian datanglah orang-orang Farisi dan Saduki hendak mencobai Yesus. Mereka meminta supaya Ia memperlihatkan suatu tanda dari sorga kepada mereka." Pikiran pertama adalah mau menguji kehebatan Yesus dalam bentuk tanda sorga. Salah nggak untuk meminta tanda sorga kepada Yesus? Tidak salah, namun yang salah adalah motivasi atau apa yang ada dalam pikiran mereka. Tanda yang mereka minta bukan untuk membuat mereka berubah atau percaya. Motivasi adalah hanya ingin tahu dan kemudian selesai, kalau perlu dikritik lagi bahwa tanda itu berasal dari iblis (lihat renungan sebelumnya).

Pikiran yang kedua ada di ayat 7 dan 8: "Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: "Itu dikatakan-Nya karena kita tidak membawa roti." Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: "Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orang-orang yang kurang percaya!"
Murid-murid berpikir bahwa maksud Yesus dengan berkata "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki"(ayat 6) adalah karena mereka lupa membawa roti. Miskomunikasi.
Yesus kesal? Ya rada-rada kesal. Dalam pikiran Yesus selalu tentang pekerjaan Allah menyelematkan dunia, dalam pikiran murid selalu kepentingan dan kebutuhan mereka saja. Apakah wajar murid-murid berpikiran begitu, saya pikir wajar. Sama seperti kita yang juga sibuk memikirkan diri, kebutuhan dan kepentingan kita di dunia. Namun apa yang wajar bagi kita ini tidak pas seperti apa yang dipikirkan Tuhan Yesus. Ketika Yesus mengatakan 'Hai kamu orang yang tidak percaya' maka makin bingung para murid. Mengapa kita disebut orang yang tidak percaya sedang kita hanya mikir bahwa mungkin maksud Guru karena kita lupa bawa bekal.

Pikiran yang ketiga ada di ayat 13: "Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?". Yesus ingin mengetahui dalam pikiran murid-murid tentang siapa diriNya. Sebagai guru wajar bagiNya mengetahui seberapa tahu mereka tentang siapa itu guru mereka. Kali ini pikiran Petrus sama seperti yang diinginkan Tuhan Yesus seperti dijawabnya di ayat 16 :"Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!". Apa respons Yesus, senang luar biasa sehinga Tuhan membuat komitmen/janji kepada Petrus di ayat 17,18: "Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya."
Inilah janji Tuhan yang telah digenapi dengan tumbuhnya gereja diseluruh dunia yang dimulai dari gereja santo petrus.
Kita perhatikan bahwa ketika Petrus menjawa sesuai pikiran Allah, maka jawaban itupun keluar atas perintah dan seijin Bapa di surga.

Pikiran yang keempat merupakan klimaks dimana diayat 21 Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia harus menanggung penderitaan bahkan mati namun bangkit di hari ketiga. Pikiran Allah ini tidak disukai Petrus dan berusaha menentang/menyangkal supaya itu tidak terjadi (ayat 22).

Lalu apa yang bisa kita terima sebagai kebenaran dan pengajaran lewat matius 16 ini.

Pertama, kita memang harus sadar bahwa apa yang ada dalam pikiran kita hampir pasti selalu tidak sama dengan apa yang ada dalam pikiran Allah bahkan kita tidak mengerti benang merah rencana Allah untuk kita.

Kedua akan ada selalu miskomunikasi. Ketika Yesus merespon pikiran kita, maka kita akan bingung karena responnya tidak bisa langsung kita terima dengan akal pikiran kita. Itu sebabnya ajakan firman Tuhan untuk fokus datang kehadiratNya , mencari wajahNya dan merenungkan firman siang dan malam akan membuka tembok miskomunikasi kita dengan Dia.

Ketiga, jangan cepat puas atau bertepuk tangan karena kita menduga kita sudah mengenal pikiranNya. Petrus bahagia karena dia berhasil menjawab benar pertanyaan Yesus bahwa Yesus adalah anak Allah, tapi kemudian ditegor keras oleh Yesus karena tidak rela Yesus harus mati. Tetap rendah hati, dan terus mencari wajahNya dan bergaul karib denganNya membuat kita tetap aman dalam lindungan dari panah iblis yg mencoba menerobos pertahanan ketika kita lengah.

Keempat dikatakan di ayat 24: "Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."
Penyangkalan diri dari keinginan duniawi, dan fokus pada karya keselamatan dan pekerjaan Allah menyelamatkan dunia ini, itu yang diminta untuk selalu kita pikirkan, karena ini juga pikiran Allah.

Selasa, 15 Maret 2011

Renungan. Matius 15. Remah-remah saja sudah cukup.

Remah-remah adalah sisa-sisa roti dalam bentuk pecahan (hancuran) yang terbuang setelah roti habis dimakan. Ujung-ujungnya remah-remah itu akan disapu ketika membersihkan meja dan kemudian dibuang. Sisa, jadi sampah, dan terbuang. Pernahkah kita menginginkan bagian remah-remah untuk menopang hidup kita. Tidak pernah sama sekali. Ajaran yang diberikan orang tua kita adalah raihlah cita-cita setinggi langit, rajin pangkal pandai, kalau minta maka mintalah yang terbaik, jangan rendahkan dirimu.

Kali ini kita belajar bagaimana sikap rendah hati yang diperlukan untuk hidup yang berkenan kepada Tuhan.

Seorang ibu yang 'tidak layak' yang punya masalah yakni asalnya kanaan dan mempunyai putri yang sakit dan kerasukan setan (matius 15:22 "Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."). Asal perempuan ini dari Kanaan, suku yang direndahkan oleh bangsa Israel. Kita ingat ketika Yosua membawa bangsa Israel manaklukkan kanaan dimana bangsa kanaan harus dihancurkan sesuai perintah Allah.

Perempuan yng berciri kanaan ini segera diketahui oleh murid2 Yesus dan segera meminta Yesus untuk menyingkirkan perempuan itu, tentu karena status nya yang rendah (ayat 23). Yesuspun mengiyakan saran murid-muridNya dan meminta perempuan itu untuk tidak mengganggu Dia (ayat 24, "Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.").

Betapa mengecewakan. Mungkin kita sering ditolak oleh orang atau lingkungan pergaulan kita, namun bagaimana kalau ditolak Yesus? Sedih bukan main. Kita bukan suku Israel (jasmani) sama seperti perempuan itu yang bukan juga dari suku Israel. Kita pun layak untuk tidak diterima Tuhan karena alasan tersebut bahkan karena pelanggaran dan dosa kita.

Lebih keras lagi Yesus mengatakan di ayat 26, "Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.". Sepintas perkataan Yesus memang keras, tapi kalau kita tilik perkataan Nya tidak seluruhnya bermaksud meniadakan peluang bagi perempuan itu. Tidak patut dalam bahasa aslinya, it is not good(beautiful) yang berarti ada peluang dan tidak tertutup sama sekali. Yesus menguji iman perempuan tersebut dengan menggunakan kelemahannya sebagai perempuan dari suku yang rendah.

Seringkali juga dari latar belakang kita, atau pendidikan, relasi sosial kita merasa direndahkan padahal itu bisa menjadi ujian untuk memacu kita lebih baik. Kita cepat menilai diri kita rendah karena latar belakang itu.

Perempuan itu kalau tetap merasa rendah karena ke-kanaan-nya itu tentu akan segera membalik diri dan pulang mendengar perkataan Yesus. Namun ia tidak demikian. Apa kemenangannya?

Perempuan itu manangkap peluang. Dia serius mendengar perkataan Yesus sekalipun perkataan itu keras. Dia bisa peka melihat isi hati Yesus, bukan hanya perkataan saja. Dia melihat bahwa Yesus hanya menguji saja. Kemudian dia menjawab di ayat 27, "Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.".

Sekalipun dia dikatakan anjing (olokan orang israel kepada kanaan) namun dia tetap ngotot bahwa masih ada remah-remah yang bisa dimakan oleh anjing. Luar biasa. Dia meminta hak, bahwa walu hanya anjing, tetap punyak hak untuk makan (yang sisa).

Menghargai hidup yang diberikan sang pencipta adalah pembelajaran buat kita. Anjing juga punya hak hidup apalagi kita sebagai manusia. Karena kita diberikan hidup, maka sipemberi hidup akan menyediakan kebutuhan yang diperlukan untuk hidup yang benar.

Tidak menyerah, mencari peluang, bertahan dan terus nempel pada sipemberi berkat, sekalipun dimata masyarakat dinilai rendah, adalah inti cerita iman perempuan kanaan ini. Itu yang membuat Yesus sangat berkesan dan berkenan memberik berkat kesembuhan dan keselamatan seperti terlihat di ayat 28, "Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.".

Kita belajar untuk tidak menyerah dan selalu datang kepada Allah dalam Yesus. Sekalipun Dia adalah yang paling sibuk mengatur ciptaan jagat raya ini, Dia masih dan selalu punya waktu untuk kita yang tidak menyerah dan datang terus kepadaNya.

Kamis, 10 Maret 2011

Renungan. Matius 15. Memberitakan yang benar

Membaca kesaksian seorang putri remaja Angelica di web tentang bagaimana Tuhan membawa dia selama 23 jam melihat surga dan neraka (http://jesusisloveus.blogspot.com/2011/03/kesaksian-18-persiapan-dirimu-untuk.html), salah satu bagian kesaksiannya adalah menyaksikan alm seorang paus (saya tidak perlu menyebut namanya) ada di neraka. Angelica begitu kaget dan bertanya kepada Tuhan mengapa paus itu ada di neraka. Tuhan Yesus menjawab: "Ya, Putri, ia mungkin telah mengatakan banyak hal, tetapi ia tidak pernah berbicara kebenaran seperti yg ada. Ia tidak pernah mengatakan kebenaran dan mereka tahu kebenaran dan meskipun ia tahu kebenaran, ia lebih menyukai uang daripada berkhotbah tentang keselamatan. Ia tidak akan menawarkan kenyataan; tidak akan mengatakan bahwa neraka itu nyata dan surga juga ada; Putri, sekarang dia ada di sini di tempat ini." (Saya kutip kalimatnya utuh).

Membaca kesaksian ini kita merinding dan takut bahwa apa yang terlihat diluar begitu indah, kudus namun pada kenyataannya semua tipu daya. Kebenaran yang dituntut pada seseorang pemimpin rohani apalagi pada kita yang mengaku beriman dan menjadi murid Yesus, namun tidak menyaksikan kebenaran sesuai firman Tuhan, maka neraka menjadi tempat tujuannya.

Di Matius 15:8-9: "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia., juga ayat 14, Yesus berkata "Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang." dan ayat 18,19: "Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat."

Yesus mengeluarkan pernyataan ini karena kaum farisi mengkritik Yesus dan murid2Nya tidak taat dng adat Yahudi seperti tidak mencuci tangan sebelum makan (ayat1), namun Yesus melihat hati mereka yang gelap karena motivasi mereka mengkritik itu semata-mata mau mencari kesalahan Yesus. Yesuspun menyampaikan kepada mereka bahwa sebagai pemimpin mereka tidak menyampaikan kebenaran firman Tuhan seperti menghormati orang tua dengan merawat nya daripada menyepelekan orang tua demi menuruti adat dengan alasan uang yang ada padaku sudah diserahkan utk persembahan kpd Allah (ayat 5 dan 6).

Munafik (ayat 7), ini yang Yesus ekspresikan ketika melihat kita seakan-akan taat pada firman Tuhan, namun sebenarnya kita menggunakan firman Tuhan untuk membuat kejahatan, demi kehormatan manusia (pekerjaan manusia, ayat 9).

Kembali pada kesaksian Angelica, Tuhan memperlihatkan bahwa Neraka itu nyata, senyata Surga, dan membaca detil kesaksian tersebut betapa saya dan mungkin saudara masih mungkin dan bisa tersandung dan tersesat ke neraka kalau kita tidak sungguh-sungguh mentaati firman Tuhan dan memberitakan kebenaran ini kepada setiap orang.

Selamat merenung dan bertindak.

Minggu, 06 Maret 2011

Renungan Matius 14. Takut yang menyebalkan

"Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!""Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus." "Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"" (Matius 14:26-30)

Ada dua jenis ketakutan yang kita baca di bagian alkitab ini. Ketakutaan pertama adalah ketika murid-murid melihat sesosok 'mahluk' berjalan diatas air sementara mereka sedang panik juga dalam mengatasi kapal yang dihantam badai. Ketakutan ini didasari dari keterkejutan mereka yang tidak menyangka ada sesuatu bisa berjalan diatas air, dan hampir pasti bagi pelaut selalu mengarahkan kepada hantu. Ketakutan seperti melihat hantu itu membuat mereka berteriak, dalam bahasa aslinya to cry out loud artinya berteriak sangat keras.

Ketakutan kedua dialami oleh Petrus yang saat itu mungkin dengan bangga, heran dan terkejut dapat berjalan diatas air. Takut yang dialami oleh petrus ini mengambil kata yang sama dengan takut yang dialami oleh murid-murid seperti melihat hantu. Kata takut ini berasal dari kata asal 'phobeo' yg artinya to flight by terrifying (to scare away) = terbang ketakutan, atau terbirit-birit lari ketakutan. Jadi ketakutan ini adalah ketakutan yang sangat yang tidak sanggup lagi dihadapi, istilahnya kalau bisa pingsan saja deh.

Kita perhatikan murid-murid Yesus yang berpengalaman di laut tidak bisa mengandalkan pengalamannya itu untuk menghadapi sesuatu yang tidak diharapkan, sekalipun itu masih berada dalam lingkungan pengalaman mereka. Demikian juga Petrus yang sudah tahu bahwa sang Guru yang luar biasa berkuasa berdasarkan pengalaman hidup bersama, bahkan yang mengajak turun ke laut, tidak dapat menggunakan penngalaman dan pengetahuannya untuk mengatasi rasa takutnya.

Pengalaman dan pengetahuan tidak mampu menyelesaikan masalah ketakutan yang kita alami dalam hidup. Angin sakal maupun angin kencang yang ada disekitar murid dan petrus tidak akan disingkirkan oleh Yesus, sekalipun mereka adalah murid-murid Yesus. Allah membiarkan angin sakal dan angin ujian datang menghampiri kita. Bagaimana sikap kita.

Sebagai manusia, wajar kalau kita takut bahkan takut yang amat sangat. Ini fakta, buktinya murid-murid mengalaminya. Alkitab mengajari kita demikian. Takut tidak bisa dihindarkan. Namun takut yang demikian sangat menyebalkan kita sebagai murid yang harus punya tekad bertumbuh dan selalu bisa naik kelas.

Takut dapat membuat kita mengalihkan perhatian dari kasih dan anugerah Tuhan Yesus. Itu sebabnya Tuhan Yesus merespons ketakutan kita dengan 2 hal yakni janji:
- jangan takut
- hai orang kurang percaya mengapa engkau bimbang? (Ayat 31)
dan tindakan menolong yakni:
- memerintahkan angin untuk diam
- mengangkat petrus

Kita belajar bahwa takut karena suasana lingkungan yang tidak nyaman dapat membuat kita kehilangan fokus dan Tuhan tidak menyukai hal itu. Kita belajar bahwa mengatasi rasa takut hanya dengan datang kepada sang pemberi janji dengan jaminannya: jangan takut, jangan bimbang hadapi dengan tenang, Aku menyertaimu.

Rabu, 02 Maret 2011

Renungan Matius 14. Kerajaan dunia versus Kerajaan Surga

Pernahkan mendengar kerajaan dunia versus kerajaan surga. Mungkin belum. Kitab Matius pasal 14 ini sedikit menguraikan bagaimana kerajaan dunia pernah dihadapkan dengan kerajaan surga. Ayat 1 mengatakan "Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah." Herodes adalah raja diwilayah dimana Yesus ada dan baru di pasal 14 ini Herodes mengetahui siapa Yesus.

Herodes sudah mempelajari pekerjaan Yesus, mungkin dia juga mendengar dari orang banyak dan akhirnya dia menyimpulkan di ayat 2 "Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: "Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya."

Herodes sadar bahwa Yesus memiliki kuasa seperti menyembuhkan, membangkitkan dan lain-lain namun dia memperkirakan kuasa itu dari Yohanes pembaptis.

Anyway, Herodes sebagai seorang raja melihat bahwa Yesus bisa dipandang sebagai saingannya karena mempunyai pengaruh bagi kehidupan di kerajaannya.

Apakah terjadi perang antara kedua 'raja' tersebut. Hasilnya ternyata tidak. Diayat 13, "Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka." Yesus kemudian menyingkir dari wilayah kerajaan Herodes dan mengasingkan diri. Mengapa Yesus mengasingkan diri. Mengapa Dia tidak berhadapan dengan Herodes dan menegor Herodes karena sikap dan perbuatannya membunuh Yohanes lantaran tidak sanggup menolak permintaan putri tirinya agar Yohanes dipenggal kepalanya(ayat 8 dan 9). Bukankah fungsi kita juga menegur ketika sesorang melakukan kesalahan dihadapan Tuhan?

Sebagai perbandingan matius 14 ayat 13 kita bandingkan dengan Markus 6:31, "Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat."

Dari sini kita bisa merasakan bagaimana Yesus merasa tidak perlu berhadapan dengan Herodes karena ada prioritas lain yakni beristirahat sejenak dari kelelahan fisik, bahkan dari rasa lapar karena mungkin selama pekerjaan mereka belum sempat makan. Yesus berpikir, Aku akan kembali berhadapan dengan Herodes, tapi bukan sekarang. (Kita ingat Yesus kemudian berhadapan dengan Herodes setelah Dia ditangkap di taman Getsemane).

Apa prioritas Kristus. Renungan sebelumnya kita diajarkan perumpamaan Penabur, dimana kerajaan Allah seumpama benih yang ditabur di tanah yang baik. Benih harus masuk dalam tanah yang baik, bukan berbatu atau bersemak duri. Tanah. Itu yang menjadi prioritas Allah. Tanah yang baik adalah hati manusia yang siap menerima firman Allah.

Kita tahu setelah menyingkir, Yesus melakukan pekerjaan menggugah hati orang yang berbondong mengikuti Dia dan murid-muridNya sekalipun mereka harus berjalan memutar (lewat darat) sedang Yesus dan murid-murid dengan perahu (Matius 14:13). Dia menyembuhkan mereka, mengajar hal kerajaan surga dan memberi makan 5000 orang laki-laki.

Perhatikan Yesus lebih prioritas mengolah tanah (hati) yang baik yang ada pada orang-orang yang begitu haus dan lapar akan kebenaran sementara seorang raja besar yang mengusai puluhan bahkan ratusan ribu rakyat dibiarkan untuk tidak dijamah hatinya. Inilah otoritas Allah, namun juga merupakan pilihan manusia untuk memilih haus akan kebenaran.

Kerajaan Allah adalah menabur benih di tanah yang baik (hati yang haus kebenaran), sedang kerajaan dunia lebih mementingkan hati yang dibangun dengan keangkuhan, pementingan diri dan kehormatan.

Selasa, 22 Februari 2011

Renungan Matius 13. Perumpamaan

 Di pasal 13 ini Yesus mengajar tentang kerajaan surga lewat perumpamaan. Apa itu perumpamaan. Dalam alkitab bahasa inggris kata perumpamaan adalah parable atau dari asal kata ibrani parabole yang defenisinya adalah sbb (www.sabda.org):
- penempatan suatu hal/benda pada sisi benda yang lain (seperti kapal2 dalam satu armada)
- dimetaforakan sebagai suatu perbandingan, untuk membandingkan satu hal/benda dengan lainnya, mencari kesamaan atau kemiripan.
- satu contoh untuk memberikan ilustrasi atas suatu doktrin/ajaran
- suatu narasi (cerita/uraian), fiksi namun  sesuai dengan hukum atau norma kehidupan dalam kaitan dengan pekerjaan manusia atau hal2 surgawi seperti sifat Allah atau sejarah kerajaan Allah.
-  suatu cerita rakyat dengan makna surgawi di dalamnya
- suatu amsal
- suatu tindakan dimana seseorang menghadapkan dirinya atau miliknya pada bahaya, petualangan atau resiko.

Ayat 3 "Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur." Disini Yesus mulai mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan. Latar belakang Yesus memberikan perumpamaan ada di ayat 10 ketika murid2Nya juga menanyakan hal yang sama. Yesus menjawab :"Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak."(Ayat 11). Dari jawaban Yesus ini maka kita dapat memahami dalam benak Yesus bahwa sebagian besar orang tidak tahu atau tidak akan tahu tentang rahasia Kerajaan Sorga. Artinya yang Yesus tekankan adalah rahasia (mysteries) atau bahasa ibraninya musterion yang artinya hidden thing atau hal-hal yang tersembunyi. Memang secara nalar sesuatu maksud yang tersirat sulit ditangkap ketika berkomunikasi. Kita ingat ketika pa Harto masih sebagai presiden RI para menteri atau bawahannya harus bisa menangkap maksud tersurat dan tersirat dari setiap perkataannya agar bisa 'survive'. Memaknai hal yang tersirat sangat dipengaruhi faktor budaya. Mengingat pa Harto dari budaya jawa, banyak orang yang belajar budaya jawa untuk mencoba memaknai apa yang ada di dalam hati beliau.

Kembali kepada cara Yesus berkomunikasi kepada orang Yahudi, tentu mereka satu budaya, namun Yesus melihat bahwa faktor utama sehingga orang Yahudi tidak dapat memaknai rahasia kerajaan surga adalah karena kekerasan hati mereka seperti yang Yesus sampaikan di ayat 13 "Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti."

Kekerasan hati dapat membutakan dan menulikan kebenaran atau pandangan lain pada seseorang. Kekerasan hati berbeda dengan keteguhan hati. Kita sebagai orang yang beriman harus teguh dalam memelihara iman kita, namun kalau hati yang keras cenderung fanatisme buta, tidak bisa melihat konteks dari kebenaran, tidak dapat menyesuaikan diri dengan suatu keadaan tanpa harus mengorbankan iman, tapi malah dapat mengoptimalkan iman tersebut. Suatu contoh sebagai murid Kristus kita dapat memaknai berilah makanan kami yang secukupnya dengan pemahaman punya uang hari ini harus dihabiskan hari ini, besok nggak usah dipikirkan. Tapi dengan iman yang sama kita dapat memaknai itu bukan soal menabung atau tidak( menabung itu perlu) tapi bisa kita pahami dengan arti tidak serakah, setia namun tetap berbagi.

Berapa kali kita membaca sikap Yesus yang dengan keras tentang kekerasan hati bangsa Yahudi. Di pasal-pasal sebelumnya bagaimana Yesus berusaha dengan cara baik maupun keras menegur mereka yang tidak mau membuka mata hati mereka atas pengajaran Yesus atau membuka mata telanjang mereka atas pekerjaan dan kuasa yang dipertunjukkan Yesus ketika melakukan mujizat.

Harapan Yesus lewat perumpamaan mereka bisa lebih mudah memahami karena budaya mereka sama. Cerita perumpamaan yang Yesus sampaikan pun tentang kehidupan sehari-hari rakyat Yahudi misalnya tentang penabur, tentang kebun anggur, tentang biji sawi. Ini sesuai dengan defenisi 'parable' diatas yang mencari suatu pembanding yang mirip tapi dengan latar belakang cerita kehidupan rakyat disana sehari-hari. Seharusnya makin mudah namun kenyataannya tidak.

Bagi kita yang sudah ada dalam jaman anugerah keselamatan, tentu lebih mudah memaknai perumpaan Yesus tersebut. Kita telah menerima Dia sebagi juruselamat kita. Sekarang tinggal bagaimana kita dapat mengerjakan dan memelihara perumpamaan yang diberikan itu dalam hidup kita. Belajar pengetahuan dari perumpamaan namun lebih dari itu menerima, meyakininya dan menerapkan nya dalam hidup sehari-hari.

Minggu, 20 Februari 2011

Renungan Matius 12. Keluarga dalam Kristus

Renungan dari Matius 12 diakhiri dengan pernyataan Yesus akan siapa sebenarnya keluarga Kristus. Ayat 50, Yesus berkata "Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." Perkataan ini Yesus sampaikan karena seseorang memberitahu kepada Yesus akan datangnya ibu dan saudara-saudara Yesus pada saat Yesus sedang sibuk melayani. Begitu sibuknya sampai ibu dan saudara-saudaraNya tidak bisa mendekati Yesus (47). Ada seotrang yang tahu bahwa mereka adalah anggota keluarga Yesus dan berusaha membantu mendekatkan mereka kepada Yesus.
Pemahaman keluarga secara normal jelas berhubungan dengan ikatan darah. Namun disini Yesus memberi pemahaman baru tentang arti keluarga. Selain keluarga karena ada ikatan darah, maka keluarga pun dapat dipahami sebagai suatu kelompok yang saling memperhatikan dan anggotanya mempunyai peran masing-masig untuk hidup,bertumbuh dan dalam rangka untuk mencapai tujuan bersama. Didalamnya ada kerukunan, persatuan, persekutuan, kenyamanan, ketenteraman dan sukacita. Yesus memandang hubungan Dia dengan murid-muridNya sebagai suatu keluarga. Secara lantang Yesus sampaikan kepada orang banyak. Mungkin murid-muridNya pun kaget dengan pernyataan itu. Namun apa yang Yesus sampaikan itu adalah kebenaran. Selain fungsi keluarga seperti yang telah disampaikan diatas, Yesus menambahkan satu aspek penting dalam menjadi anggota KeluargaNya yakni melakukan kehendak Bapa sama seperti yang Ia lakukan bersama murid-murid Nya. Melakukan kehendak Bapa merupakan prioritas bagi semua anggota keluarga Kristus. Karena dari sanalah tersimpan damai sejahtera, kasih, kerukunan, ketenteraman, sukacita, kesatuan dan kejelasa fungsi masing-masing anggota keluarga. Bila diantara anggota keluarga ada konflik dan berakhir dengan perpecahan, maka harus ditinjau kembali apakah keluarga tersebut sudah mendasari. Karakter keluarga Kristus. Menjadi keluarga Kristus berarti Yesus mengaku dihadapan siapa saja bahkan dihadapan BapaNya siapa saudara-saudaraNya itu. Sederhana bukan. Pemahaman melakukan kehendak Bapa disini bukan karena terpaksa tapi penuh kesenangan dan menjadikan segala sesuatu ringan.

Kamis, 17 Februari 2011

Matius 12. Dosa tak terampuni.

Matius 12:31,32 demikian "Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak." Tegas dan jelas Yesus menyatakan dosa yang tidak dapat diampuni kapanpun dan dimanapun adalah menghujat Roh Kudus. Mari kita lihat konteksnya kenapa Yesus menyatak demikian. Dibagian awal matius 12 Yesus membela murid-murid karena makan gandum dihari sabat. Demikian juga Yesus melakukan mujizat dihari sabat yakni ayat 13 Yesus menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya. Yesus melihat reaksi negatif (perlawanan) dari sekelompok orang karena pekerjaan Yesus dan murid2Nya. Ini terlihat diayat 10 dan 11 sehingga Yesus menjelaskan bukankah lebih baik dan penting menolong orang segera sekalipun itu harus dilakukan hari sabat. Perhatikan sikap Yesus yang mengutamakan menyelesaikan suatu masalah ketika masalah itu cukup penting untuk diselesaikan segera. Berdoa atau berpuasa penting namun berbuat saat-saat urgent/mendesak juga diutamakan Yesus. Yesus selalu menunjukkan ukuran keberhasilan adalah pekerjaan dan buahnya (ayat 33).

Yesus melihat hati yang melawan pekerjaanNya didalam diri orang-orang terutama Farisi. Bukannya orang farisi tersebut berdiskusi dan belajar tentang kuasa yang ditunjukkan oleh Yesus, malah menghukum dengan mengatakan bahwa kuasa dalam Yesus adalah kuasa setan (ayat 24) karena Yesus menyembuhkan orang yang kerasukan setan (ayat 22). Sikap menihilkan atau melawan atas pekerjaan Yesus yang diperlihatkan oleh farisi adalah menghujat, bahasa inggrisnya blasphemy yang definsinya adalah slander, detraction, speech injurious, to another's good name/divine majesty. Slander artinya selalu(persisten) menyalahkan tindakan seseorang, selalu dibalik-dibalik. Sifat ini sudah menjadi karakter yang awalnya mungkin tidak serius namun karena setiap waktu terus dilakukan akahirnya menjadi karakter. Yesus adalah Tuhan yang maha mengampuni. Kita tahu sikpa Yesus yang mengatakan kepada petrus agar mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali, artinya tidak berhenti, terus menerus. Juga Yesus mengampuni wanita asusila, zakeus pemungut cukai dan banyak ajarannya selalu tentang mengampuni. Yesus menyadari bahwa manusia berbuat dosa dan salah dimata Tuhan adalah wujut kemanusiaan yang gagal dan terbatas sehingga Allah perlu turun tangan untuk meraih dan menyelamatkannya. Itu tujuan Allah dalam Yesus. Jadi mengampuni adalah pekerjaan dan sifat Allah utama. Namun Allah tahu selain kebaikan yang Allah taburkan didunia ini ada pekerjaan jahat yang mengembara dan berusaha menggagalkan pekerjaanNya. Ini klasik bukan. Selalu menyalahkan, selalu mencari kesalahan, tidak mau belajar, itu yang Yesus lihat dalam diri farisi terutama di matius 12 ini. Roh kudus adalah Roh Allah sendiri dan semua pekerjaan Yesus selama hidupNya adalah pekerjaan Roh Kudus seperti menyembuhkan, membangkitkan, mengajar, menuntun, mengusir setan, dll. Yesus sebagai anak manusia berbeda dengan Roh Kudus ketika melihatnya dari cara berpakaian, bagaimana makan, tidur, berrelasi dengan murid2Nya dan sesama dll. Kalau bagian ini Yesus harus disalahkan, ini bisa diterima dan diampuni kalau salah menilai atau menghujat. Tapi kalau yang disalahkan adalah pekerjaan roh kudus dalam Yesus, maka ini sama sekali tidak bisa diampuni.
Roh kudus ada dan tinggal dalam diri kita. Dia sebagai penolong dalam hidup kita. Mengabaikan Dia dan fungsinya dalam hidup kita juga merupakan bagian tidak menghormati Dia dan tentunya akan berakibat kesana. Saya tidak mau menafsirkan ini menjadi hal yang buruk tapi saya mengajak kita semua belajar mengandalkan Roh Kudus menjadi penolong kita yang sungguh.

Minggu, 13 Februari 2011

Renungan Matius 12. Benar dan Salah

Siapa yang bisa menentukan benar dan salah? Manusia dari kodratnya punya hasrat untuk membenarkan dan menyalahkan. Yang marak akhir-akhir ini misalnya aliran agama yang tidak sesuai dengan agama utamanya di cap sesat dan tidak layak menggunakan nama agama utamanya. Kita semua cenderung memberi nilai benar dan salah, karena itu adalah nilai yang akan kita pakai meneruskan hidup di dunia. Kalau kita katakan benar maka akan kita jalankan, kalau kita nilai salah maka akan kita hindarkan. Hidup ini begitu kan, karena manusia sendiri yang menentukan jalan hidupnya. Nah bagaimana supaya kita belajar menilai lebih kehati soal kebenaran dan kesalahan, mari kita baca matius 12:1-8. Ayat 1 menceritakan pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum dan karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Sederhana kegiatan ini tapi dampaknya luas. Sabat adalah hari istirahat, ada banyak larangan di hari sabat. Sebagai contoh ada 39 larangan bekerja pada hari sabat yang ditetapkan oleh para Rabi Yahudi di kitab Talmud(http://www.religionfacts.com/judaism/holidays/shabbat.htm). Jenis kerja misalnya memasak, mencuci pakaian, membangun, memperbaiki, menulis, menyalakan api, memotong, memancing,  dll termasuk berpindah(naik mobil), panjat pohon. Kalau kita lihat yang pertama/dasar untuk menilai suatu hal benar atau salah adalah karena ada rules atau larangan atau perintah. Ini adalah nilai dasar yang dibuat oleh manusia, kelompok manusia. Sehingga bagi yang melanggar nilai tersebut adalah dinyatakan salah dan bila dilaksanakan maka dinyatakan benar.
Apa sikap murid-murid Yesus ketika lapar pada hari sabat. Mereka memetik bulir gandum dan memakannya. Apakah salah? Salah menurut orang Yahudi(aturan hari sabat). Kalau anak kita melanggar perintah kita, apa sikap kita. Sama seperti orang Yahudi menyatakan bahwa itu salah. Yesus juga menyadari bahwa apa yang dilakukan murid-muridnya adalah melanggar aturan sabat tapi dengan tegas Yesus menyatakan bahwa mereka tidak bersalah. Hmmm tentunya kita akan mencampuri diskusi itu dan berkata kepada Yesus, ntar dulu biar pengadilan yang menetapkan salah atau benar. Setiap orang bisa menafsirkan berbeda akan sikap Yesus ini. Kita tinggalkan dulu soal salah benar murid Yesus yang melanggar sabat. Kita baca ayat 3-6. Yesus sadar bahwa Dia dan murid-muridNya akan diserang oleh Yahudi lainnya. Itu sebabnya Dia benar-benar tahu bagaimana menyiapkan dasar-dasar atau nilai penting untuk melengkapi nilai benar atau salah yang terkait dengan pelanggaran aturan. Apa itu?  Nilai belas kasihan dan nilai pengetahuan. Saya uraikan dulu soal nilai pengetahuan atau knowledge. Nilai ini sangat penting karena apa yang membentuk nilai peraturan adalah nilai pengetahuan. Pengetahuan ini tidak statis tapi dinamis, kontekstual, wisdom, komunal, berubah dengan perjalan sejarah. Sejak aturan sabat dibuat Yesus mempelajari(menambah pengetahuan) adanya beberapa kejadian sebagai preseden tentang pelanggaran di hari sabat karena terpaksa. Daud dan pengikutnya kelaparan dan makan di hari sabat (ayat3,4) juga para imam melanggar sabat tapi tidak bersalah(5). Yesus memiliki pengetahuan ini untuk memberi pandangan dan meruntuhkan tembok kekakuan (fundamentalis) dari orang-orang yang picik yang berprinsip pokoknya harus begini/begitu. Orang-orang ini sebanarnya tidak tahu lengkap aturan karena tidak/kurang berpengatahuan. Bayangkan kalau orang-orang seperti ini yang diberi wewenang mengawal aturan. Terjadi otoritanisme. Nilai kedua yang dibawa oleh Yesus adalah belas kasihan. Nilai ini merupakan primus dari ajaran Yesus, pengampunan dan keselamatan bagi isi dunia ini. Pengampunan tidak dikenal dalam pengadilan manusia apalagi pengampunan yang membebaskan seseorang dari segala pelanggarannya. Dalam dunia maskulinitas (sebab dan akibat) keberadaan Yesus yang lebih feminitas tidak diakui dan diterima. Feminitas Yesus adalah karena (anugrah)- maka(diampuni). Salah dan benar membuat dunia ini guncang karena peperangan, konflik antar agama, kehancuran keluarga, dendam dll. 
Maka kedua nilai yang disampaikan Yesus yakni pengetahuan dan belas kasihan menjadi pembungkus dari nilai aturan(ayat 6-8). Belajar lah terus tapi tidak menjadi sombong dan giatkan terus dalam hati sifat belas kasihan.

Selasa, 08 Februari 2011

Renungan Matius 11. Keraguan menjadi Kepastian

Matius 11:28. Kita kenal betul dengan ayat-ayat ini. Marilah kepadaKu, semua yang letih dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Ayat ini dikenal sebagai ajakan untuk melepaskan penat dan beban untuk istirahat dipangkuan Yesus. Mari kita lihat apa yg membuat Yesus mengeluarkan pernyataan ini. Ini dimulai dari 'tuduhan' Yohanes dan murid-muridnya akan eksistensi Yesus sebagai juruselamat bangsa Israel. 
Ada sedikit kekecewaan dalam hati Yesus dan ini bukan hanya ditujukan pada Yohanes tapi perasaan galau bahwa orang2 yang ada disekitar, yang mendengar diskusi Yesus dan murid_murid Yohanes akan goyah semangat mereka untuk masuk dalam karya keselamatan. Sebelum mengungkapkan perkataan ini, Yesus melihat bahwa bagi orang pintar sulit untuk menerima nilai-nilai kerajaan Allah, sebaliknya hal itu mudah bagi orang kecil. Dan Yesus bersyukur karena kemisteriusan ajakan illahi ini, yang mudah tapi sulit diterima oleh sebagian orang. Yesus menegaskan untuk mampu memahami siapa Yesus adalah dengan mengenal Yesus  sendiri supaya kita bisa mengenal Allah,  dan juga atas ijin perkenan Yesus sendiri(ayat 27). Satu sisi Yesus ingin supaya semua orang bisa mengenal dan menerima Dia, tapi disisi lain keputusan seseorang berkenan menerima dan mengenal Yesus adalah atas otoritas Yesus.  Secara murah kita dapat mengenal Yesus lewat firman yang dibaca, melihat kesaksian dan mujizat atas pekerjaan kuasa Allah( datang KKR kan murah), tapi ini menjadi mahal karena hanya Yesus yg bisa memberikan kepada kita hak untuk menerima Dia. Yang dimaksud dengan mahal adalah sikap takut akan Tuhan, datang dengan hancur hati, mengaku segala dosa, hormat dan memuliakan Dia, mempercayai semua aspek kehidupan kita hanya kepada Yesus. Ini mahal karena ada pain yg harus dialami melawan keinginan duniawi, ada pengorbanan, pikul salib dan mau menderita. Keberkenaan Tuhan Yesus adalah suatu proses dan ini mahal. Yesus berkata Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Kesannya murah bukan, tapi dengan apa? Dengan memikul kuk yang Kupasang dan belajar kepadaKu, inilah yang mahal itu. Dan Yesus berjanji kuk itu tidak berat asal kita senang menerima dan memikulnya. Semua penderitaan dan pergumulan dan kerja keras kita dapat dengan tenang dan enjoy kita jalani kalau kita minta Yesus yg menaruh semuanya di bahu kita dan kita minta waktu untuk belajar kepadaNya.

Senin, 07 Februari 2011

Renungan Matius 11. Alasan untuk tidak kecewa

Apakah pernah mengalami tidak dipercaya orang atau keluarga. Kesal dan marah mungkin timbul dalam pikiran kita, apalagi kita merasa kita sudah melakukan yang terbaik. Tuhan Yesus pernah mengalami diragukan sebagai juruselamat atau kerajaan surga yg sudah datang itu. Yohanes begitu antusias menyambut Yesus sebagai juruselamat yg datang menebus manusia(bangsa israel). Bahkan dia yg menyatakan juruselamat sebagai kerajaan surga yg sedang datang kedunia. 
Namun, setelah dipenjara oleh karena menegur raja Herodes, dia mengalami keraguan atas eksistensi Yesus sbg anak Allah. Mengapa demikian, mungkin karena harapan dia dan kelompoknya bahwa Kerajaan surga yg dimaksud adalah untuk membebaskan bangsa Israel dari penjajahan romawi. Alasan ini rasanya tidak lengkap karena bagi seorang Yohanes yg menyaksikan kuasa dan hadirat Allah ketika Yesus selesai dibaptis, lebih melihat pekerjaan Allah untuk menjadikan kerajaan Allah sebagai sesuatu yg spiritual daripada duniawi. Yohanes juga tidak menyukai hidup duniawi dengan tinggal di padang gurun dan memakan belalang sebagai makanannya. Pengaruh karena dipenjara serta informasi yg tidak lengkap tentang kehidupan Yesus dan kelompoknya, dapat membuat Yohanes sbg manusia terbatas bisa misjudgment. Bagaimana sikap? Yesus Matius 11:7 berkata setelah murid2 Yohanes meninggalkan Yesus maka Yesus pun menegaskan siapa diriNya dan siapa Yohanes. Ini harus dilakukannya karena Dia pun melihat keragu-raguan yg timbul dalam hati setiap orang yang ada disekitarNya ketika dialog murid2 Yohanes dan Yesus (ayat2-6). Sikap Yesus pertama adalah menjelaskan siapa Yohanes. Yesus menegaskan kembali bahwa Yohanes benar org yg diutus Allah mempersiapkan jalan bagi keselamatan dunia. Bahkan yohanes ditegaskan sebagai lebih daripada nabi(9) dan yg terbesar dari semua yg diahirkan didunia(11), sekalipun disurga itu tidak dianggap. Ini penting ditegaskan Yesus supaya orang disekitarnya tetap percaya bhw Yohanes adalah 'penjelmaan dari Elia'(14) dan sbg utusan pendahulu juruselamat yang datang kedunia. Karena dengan demikian Yesus yg dipersiapkan oleh yohanes akan kedatangannya menjadi kebenaran yg dipercayai juga. Sikap Yesus yang kedua adalah menegur mereka untuk tetap jangan goyah karena Dia sadar bahwa ada kerajaan bukan surga yg berusaha menyerongkan orang agar tidak percaya akan kerajaan sorga. Ini dinyatakan diayat 12. Pengertian diserongkan ini adalah suffer violance (sabda.org), mengalami kekacauan. Jadi kita bisa melihat bahwa secara diam2 ada kuasa lain yg berusaha mengalihkan manusia tidak masuk dlm kerajaan surga dengan menimbulkan kekacauan diantara manusia lewat sistim, organisasi, mekanisasi. Kelihatan oleh kasat mata damai, aman, tenteram karena teratur, tapi sebenarnya kekacauan terjadi. Mengapa? Kita bisa melihat timbul perpecahan, organisasi gereja baru, saling menyalahkan denan dalih kebenaran. Kenapa dikatakan ini muncul setelah Yohanes pembaptis? Karena Yohanes pembaptislah yang menggemakan kata kerajaan surga sudah dekat. Pengertian kerajaan kan sbg suatu organisasi, suatu sistim, suatu mekanisme yg bisa diterjemahkan kearah ketertiban, namun semuanya dilihat secara dunia. Itu sebabnya di ayat 7 dan 8 dimana Yesus memperhatikan respon orang mencari kerajaan surga dengan mengukurnya secara duniawi yakni tempat tinggal, pakaian, makanan, simbol2, Yesus menegur mereka dengan keras di ayat 15, siapa bertelinga hendaklah ia mendengar dan ayat 17-20 yg menyindir mereka sebagai banyak ngomong tapi tidak ada action. Ujung2 dari sikap seperti itu adalah tidak ada pertobatan dan tidak masuk kerajaan surga. Siapa yg disalahkan, ada penyesat (yg membuat serong) dan ada pengikut yg ngomong doang. Sikap Yesus yg ketiga adalah menyerang kota (ayat 21-24). Penglihatan Yesus adalah peran kota penting untuk memfasilitasi orang masuk kerajaan surga. Ketika pendudu disitu tidak bertobat walau banyak mujizat maka kota pun menjadi sasaran tembak. Itu makanya perlu doa untuk kota krn kota melambangkan sistim, organisasi, mekanisme dunia yg cenderung menyesatkan orang penduduk utk bergeming dengan pola kerajaan surga yg tentu sangat berbeda. Orang melihat kota sebagai sistim yg membawa ketertiban, keamanan dan kesejahteraan, padahal ujung2nya org tidak dibawa kedalam kuasa surgawi. Sikap Yesus yg keempat adalah belajar dan mengembangkan diri. Yesus mengevaluasi dan menyimpulkan bahwa semakin orang pintar dan bijak semakin dia menjauh dari kerajaan surga (ayat 25). Oleh Yesus sikap menjauhkan diri ini digerakkan oleh Allah sendiri yg menutup hati mereka akan hal-hal yg penting menurut ukuran surga. Kita diajarkan untuk lebih banyak mendengar dari orang kecil krn mereka yg Allah ijinkan untuk mengerti rencana Allah.

Minggu, 30 Januari 2011

Renungan Matius 11. Jangan Kecewa

Matius 11 menceritakan Yesus melakukan penginjilan setelah murid2Nya menerima mandat dan pergi menginjili. Perhatikan bahwa Yesuspun harus menginjil walau ke duabelas muridNya sdh diutus. Yang dilakukanNya adalah teach dan preach, mengajar dan berkotbah. Ini satu kelengkapan yg perlu dimiliki ketika kita diutus ke ladang tuaian. Berkotbah tapi bila tidak dilengkapi pengetahuan (lewat sekolah) maka hasilnya akan membingungkan umat ang mendengar.  Bagian berikutnya dari pasal ini adalah murid2 Yohanes disuruh Yohanes utk mempertanyakan status dan keberadaan Yesus. Ada kebingungan siapa Yesus sebenarnya. Mungkin mereka mengukur cara2 Yesus memperlakukan murid2Nya tidak sebagai orang2 suci. Ada laporan sampai ke Yohanes bahwa kelakuan murid2Nya tidak sesuai dengan harapan mereka. Arti lainnya adalah murid2 Yesus menjadi batu sandungan dalam kesaksian kedatangan kerajaan Allah. Bagaimana Yesus menyikapi pertanyaan perihal attitude murid2Nya disampaikan di ayat 5 dan 6. Lihat perbuatan atau buahnya, kata Yesus. Orang buta melihat, lumpuh berjalan, sakit kusta, mati dibangkitkan, miskin diberitakan kabar baik. Sekalipun demikian, kalau kalian masih mempersoalkan sikap murid2Ku, jangan sampai kecewa dan menolak Aku. Lihat padaKu saja. Murid2Ku manusia dng segala keterbatasannya, fokus padaku. Jangan biarkan bisikan iblis utk mencari2 kesalahan dan akhirnya menolak Aku. Itu tujuan iblis agar kalian menjauh dariKu. Kecewa menimbulkan ketidak-bahagiaan.  Itu sebabnya kata Yesus, berbahagialah orang yg tidak menolak Aku. Jangan sekali2 kecewa dan menolak Aku krn apa yang menimpa dirimu, atau cobaan yg tidak henti2nya seakan menyedot sumsum tulang2mu sehingga habis semua kekuatanmu. Walau demikian keadaanmu, jangan lengah dan menolak Aku. Tetap percaya dan tetap bahagia. Tuhan Yesus begitu care dng perkataanNya agar kita tidak gagal dan menolak Dia. Memang harus diakui kita sering kecewa kalau melihat orang yg seharusnya jadi teladan seperti pemimpin di gereja tidak sesuai seperti yg kita harapkan, tapi jangan sampai menolak Yesus karena itu. Perbuatan Yesus menyelamatkan kita dari dosa hukuman kekal adalah lebih dari cukup dibandingkan kecewa dan sakit hati krn pertunjukkan manusia kpd kita.

Renungan Matius 10

Renungan Matius 10. FOKUS. Mari kita bayangkan anak panah yg ditembakkan ke papan lingkaran hitam. Bagi pemanah yg jitu agar anak panah tepat sasaran maka dia harus membidik lewat matanya, dan dengan merentangkan busur agar ada tenaga(energi) yg cukup dan kemudian dng konsentrasi anak panah pun dilepaskan untuk menuju sasaran. Contoh lain adalah kereta api (setiap hari sy naik ka). Ketika berangkat dari bogor, ka perlu energi (lokomotif) utk membawanya ke tujuan. Dan kereta api bisa sampai ketujuan (kota) krn ada rel yg menuntunnya agar tidak menyimpang. Dari contoh di atas maka fokus adalah cara agar bisa sampai tujuan. Syarat fokus dimulai dari tujuan yg jelas, kemudian ada ketetapan(panggilan) agar bisa sampai tujuan. Lalu hrs ada energi(kemauan, kesadaran, motivasi, belief) yg cukup agar bisa sampai sasaran krn banyak hambatan yg mau membelokkan dari sasaran. Rel kereta api merupakan serangkaian aturan yg harus ditaati agar tidak menyimpang. Bayangkan bagaimana rel dan roda kereta saling bergesekan ketika kereta api mau menyimpang waktu ada belokan. Demikian juga 'pain' ketika mau menyimpang dari aturan. Ada pemberontakkan dalam hati ketika keinginan daging begitu besar untuk melanggar rules sorgawi yakni firman Tuhan. Godaan dunia ini yg membuat halangan utk fokus.
Ketika Tuhan Yesus menetapkan murid2Nya dan memberi mandat, maka Tuhan Yesus memberikan kelengkapan agar mereka FOKUS dalam menjalankan mandat itu. Tuhan Yesus bgitu serius agar murid2Nya hrs fokus. Perhatikan ayat 16-42. Kata2 Tuhan begitu keras krn murid hrs sadar dan waspada. Ayat 17: waspadalah thd semua org. Tidak terkecuali bhw sumber godaan bisa datang dari siapa saja, keluarga dekat sekalipun. Ayat 19, jangan kawatir mau ngomong apa. Roh yg akan memimpin kata2 yg keluar dr mulut mereka. Ayat 22, bertahan krn bisa terjadi hubungan saudara(ayah-anak) bisa terganggu, kamu dibenci orang, itu mungkinterjadi. Ayat 23 larilah, kalau perlu. Ayat 28 jangan takut akan ancaman pembunuhan. Ayat 31 be yorself, banggalah pada dirimu krn kita berharga dimataNya. Ayat 37 pilih tetap setia kpd Tuhan lbh drpd kepada siapapun. Murid2 hrs fokus agar tujuan pemberitaan Kristus sbg juruslamat bisa terwujud. Maka fokus atas tujuan yg ingin kita raih adalah mutlak perlu supaya bisa meraihnya. Syaratnya: ada sasaran yg mau dibidik, perlu tenaga yg cukup, dan hrs berjalan di relnya, maka oleh perkenan Tuhan kita bisa sampai pada tujuan tsb.

Renungan Matius 10

Renungan masih di Matius 10. Kemarin kita menyinggung mandat/tugas yg diberikan Tuhan Yesus kepada ke12 muridNya. Mandat itu adalh di ayat 7, 'pergilah dan beritakanlah: kerajaan sorga sudah dekat'. Kerajaan surga tentunya adalah kehadiran Yesus di tanah Israel. Kerajaan sorga adalah kuasa. Dan tanda-tanda kerajaan sorga ada empat yakni: mujizat kesembuhan org sakit(umum), mujizat kebangkitan, mujizat tahirnya sakit kusta dan mujizat mengusir setan (ayat 8). Kenapa sampai hanya empat tanda ini yg menjadi ukuran kerajaan Allah. Kebayangkan kalau ada murid Tuhan Yesus datang ke kampung kita(misalnya tigadolok) terus mengatakan bahwa kerajaan Allah sudah dekat. Kalau hanya omongan saja, orang kampung akan mengatakan :ah ini orang sinting. Tapi ketika si murid melakukan empat mujizat tersebut maka reaksi orang kampung akan berbeda. Mereka bertanya siapa orang ini punya kuasa seperti dari sorga. Rupanya bagi Tuhan Yesus empat mujizat ini harus dilakukan supaya orang bisa melihat benar bahwa kabar 'kerajaan surga sudah dekat' itu bukan isapan jempol tapi nyata.   Apakah keempat mujizat itu masih berlaku dimasa sekarang? Saya pikir bisa iya bisa tidak. Masa sekarang kita yang sudah mengenal Yesus sebagai anak Allah yg menyelamatkan isi dunia ini tentu tdk merasa perlu ke4 tanda mujizat itu. Namun bagi yg belum mengenal Kristus, ke4 mujizat itu bisa menjadi alat orang mengenal Yesus dan kerajaan Allah itu benar adanya. Lalu bagaimana kita yg sudah mengenal Yesus(menjadi murid Yesus) bisa memberitakan kerajaan Allah kpd org yg blm mengenalNya. Apakah dng melakukan ke4 mujizat itu, yang tentunya harus mendapat kuasa dr Yesus. Secara harafiah, apa yg dikatakan alkitab itu benar dan mutlak. Jadi,kalau kita sungguh2 ingin memberitakan kerajaan Allah(berarti menjadi murid Yesus), maka kita harus/wajib meminta kuasa utk menjadi alat Tuhan melakukan keempat mujizat itu. Kalau kita blm punya berarti kita belum sungguh2 menjadi murid Yesus. Sederhana bukan.selamat berkarya Gb us

Renungan Matius 10

Matius 10. Ketika kita mendapat tugas atau pekerjaan baru maka ada beberapa kelengkapan yg harus disediakan. Pertama, mandat/tugas yg hrs dikerjakan; kedua, hak dan kewajiban; ketiga, apa yg boleh dan tidak(prosedur); keempat, evaluasi dan monitoring; kelima reward dan punishment. Semua itu bisa dilaksanakan dng maksimal krn ada tujuan/misi/visi baik buat perusahaan maupun untuk sendiri. Dalam matius 10 ketika Tuhan Yesus menetapkan 12 murid2Nya (ayat 1-4) juga melewati ke lima proses diatas. Pertama mandat. Surat Mandat yg Tuhan berikan ada diayat 5-8. Kata2 seperti 'diutus', 'berpesan', 'pergilah', 'sembuhkan', 'tahirkan', 'bangkitkan', 'usirlah' diayat 5-9 adalah suatu ekspresi dari mandat yg Tuhan berikan kpd murid2Nya. Kedua adalah hak dan kewajiban. Ayat 1 murid2 dapat hak yakni kuasa untuk mengusir roh jahat, melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Kewajiban mereka di ayat 6, pergi ke domba2 Israel yg hilang, artinya mereka hanya fokus kpd bangsa israel dan bukan bangsa lain. Ketiga adalah do and don't(prosedur). Ini jelas mulai ayat 6 dst, seperti 'janganlah'(don't), 'pergilah'(do), 'apabila pergi kedesa ada yg terima kamu, berkatilah, kalau tidak diterima, keluarlah dan tinggalkanlah'(ayat14). Keempat adalah evaluasi dan monitoring. Sipemberi mandat yakni Yesus mengevaluasi dan monitor tugas yg sdh diberikan kpd murid2Nya apakah mereka setia, bertanggung jawab! Ini terindikasi di ayat 4 bahwa Yudas akan menghianati tugas dan panggilannya. Kelima reward dan punishment. Ayat 32 dan 33 mengindikasikan faktor kelima ini. Tuhan Yesus berjanji kalau kita mengaku Dia sbg Tuhan dan juruselamat, maka Dia juga akan mengaku kita dihadapan BapaNya(reward), kalau kita tidak mengakuiNya maka Dia pun tidak mengakui kita(punishment). Semua itu ada tujuan Allah(visi) utk menyelamatkan domba2 (Israel) yg hilang. Mari kita praktekkan kelima proses itu dalam kehidupan kita. GBU

Renungan Matius 10

Matius 10. Ketika kita mendapat tugas atau pekerjaan baru maka ada beberapa kelengkapan yg harus disediakan. Pertama, mandat/tugas yg hrs dikerjakan; kedua, hak dan kewajiban; ketiga, apa yg boleh dan tidak(prosedur); keempat, evaluasi dan monitoring; kelima reward dan punishment. Semua itu bisa dilaksanakan dng maksimal krn ada tujuan/misi/visi baik buat perusahaan maupun untuk sendiri. Dalam matius 10 ketika Tuhan Yesus menetapkan 12 murid2Nya (ayat 1-4) juga melewati ke lima proses diatas. Pertama mandat. Surat Mandat yg Tuhan berikan ada diayat 5-8. Kata2 seperti 'diutus', 'berpesan', 'pergilah', 'sembuhkan', 'tahirkan', 'bangkitkan', 'usirlah' diayat 5-9 adalah suatu ekspresi dari mandat yg Tuhan berikan kpd murid2Nya. Kedua adalah hak dan kewajiban. Ayat 1 murid2 dapat hak yakni kuasa untuk mengusir roh jahat, melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Kewajiban mereka di ayat 6, pergi ke domba2 Israel yg hilang, artinya mereka hanya fokus kpd bangsa israel dan bukan bangsa lain. Ketiga adalah do and don't(prosedur). Ini jelas mulai ayat 6 dst, seperti 'janganlah'(don't), 'pergilah'(do), 'apabila pergi kedesa ada yg terima kamu, berkatilah, kalau tidak diterima, keluarlah dan tinggalkanlah'(ayat14). Keempat adalah evaluasi dan monitoring. Sipemberi mandat yakni Yesus mengevaluasi dan monitor tugas yg sdh diberikan kpd murid2Nya apakah mereka setia, bertanggung jawab! Ini terindikasi di ayat 4 bahwa Yudas akan menghianati tugas dan panggilannya. Kelima reward dan punishment. Ayat 32 dan 33 mengindikasikan faktor kelima ini. Tuhan Yesus berjanji kalau kita mengaku Dia sbg Tuhan dan juruselamat, maka Dia juga akan mengaku kita dihadapan BapaNya(reward), kalau kita tidak mengakuiNya maka Dia pun tidak mengakui kita(punishment). Semua itu ada tujuan Allah(visi) utk menyelamatkan domba2 (Israel) yg hilang. Mari kita praktekkan kelima proses itu dalam kehidupan kita. GBU

Minggu, 16 Januari 2011

Renungan Matius 9

Matius 9:1-38. Jesus still in action. Yesus menunjukkan kuasaNya. Ada 6 pekerjaan mujizat dan tentang pengajaran.Mujizat tsb adalah: orang lumpuh berjalan, pengampunan dosa(org lumpuh dan pemungut cukai), penyembuhan wanita pendarahan 12 tahun, anak perempuan yang dihidupkan kembali, dua orang buta yg dicelikkan dan orang bisu yang kerasukan setan. Sedangkan pengajarannya adalah belas kasihan (ayat 13) "Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa". Belas kasihan bhs inggrisnya mercy, artinya menunjukkan dan memperlihatkan kebaikan yag diberikan diantara manusia.
Kalau kita perhatikan hampir selalu ada kritikan ketika Yesus menunjukkan belas kasihannya. Saya perhatikan ada 4 kali kritikan dan 1 kali menertawakan perkataan Yesus. Kritikan datang dari imam farisi dan bahkan dari murid2 Yohanes krn mrk tdk berpuasa. Cara Tuhan Yesus merespons kritikan bukannya adu argumentasi dan debat kusir (kayaknya soal debat kusir nggak jauh2 dari kita neh). Ada 2 cara Tuhan Yesus merespons kritikan: pertama Dia mengarahkan ajaran yang benar kpd mereka yg mengkritik, yakni mencoba  meluruskan motivasi mereka supaya berpikir positif (ayat 4: mengapa kalian memikirkan hal2 yg jahat, atau ayat 12: masak orang berdosa tdk berhak dapat pengampunan?). Kedua adalah tindakan. Tuhan Yesus membungkam kritikan mereka dengan action yakni menyembuhkan, shg mereka tdk bisa ngomong apa2 lagi. Pemerintah kita baru2 ini dikritik oleh lintas agama dng 18 buah kebohongan. Presiden bisa menyikapinya dengan tenang dan berupaya berbuat yg terbaik buat negara.
Selamat berbuat baik dan terima kritikan dan menyikapinya tetap dng berbuat lebih baik lagi. Gbu